Wednesday, 25 December 2019

Tahun Baru di Anyer, 38 Penyelam Handal Disiagakan

Rabu, 25 Desember 2019 — 10:55 WIB
Wisata Pantai Anyer di Banten mulai pulih usai diterjang tsunami. (dok)

Wisata Pantai Anyer di Banten mulai pulih usai diterjang tsunami. (dok)

PANDEGLANG – Setahun sudah tsunami akibat runtuhan Gunung Anak Krakatau berlalu namun objek wisata pantai di Banten ini masih terpuruk dan kesulitan untuk bangkit.

Meski demikian, Pantai Anyer hingga Sumur di Kabupaten Pandeglang diprediksi masih menjadi destinasi favorite wisatawan yang akan merayakan pesta Tahun Baru 2020.

Agar agenda pesta pergantian tahun berjalan aman, nyaman dan lancar, Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Pandeglang siap mengerahkan anggotanya untuk mengamankan wisatawan pantai Selat Sunda.

Ketua Balawista Pandeglang, Muhlas Halim mengatakan, Bawaslu sudah menyiagakan sebanyak 38 penyelam andal untuk memantai kawasan wisata sepanjang pantai Pandeglang. Para petugas tersebut akan ditampatkan di sejumlah posko di kawasan pantai dan beberapa titik kawasan wisata.

“Untuk anggota sudah kita siapkan, karena banyak juga anggota Balawista yang mengamankan pantai luar Pandeglang. Diantaranya ada yang ke Bali dan Tangerang. Sementara yang ready di Pandeglang tinggal 38 anggota dan akan diturunkan sesuai kebutuhan permintaan dari pengamanan natal dan tahun baru,” kata Ketua Balawista Pandeglang Mukhlas kepada wartawan, Rabu (25/12/2019).

Menurut dia, puluhan anggota profedional tersebut akan ditempatkan di pos-pos pengamanan natal dan tahun baru. Balawista siap melayani keselamatan wisatawan karena fasilitas keselamatan yang dimiliki sudah bertambah, dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kita juga akan mengirim anggota di tempat-tempat wisata yang mereka meminta atau membutuhkan petugas Balawista. Jadi kita tergantung permintaan tetapi kalau posko-posko yang sudah ada itu mulai dari Daplangu di Sumur sampai dengan Matahari itu sudah kita tugaskan masing-masing sesuai dengan tupoksi,” tuturnya.

Menurut Mukhlas, siaga wisata akan dilakukan bersama instansi terkait seperti TNI, Polri, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI) dan pengelola objek wisata.

“Dari H-5 sampai dengan H+3. Itu kalau standar yang biasa kita gunakan tetapi itu tergantung dari kebutuhan karena biasanya kalau masih ramai bisa sampai H+10,” ujarnya.

Untuk itu, Mukhlas berharap wisatawan patuh dan taat pada rambu keselamatan yang sudah terpasang di pantai. Selain itu, menjaga jarak aman untuk berenang dan senantiasa mematuhi instruksi dari Balawista.

“Kita dalam setiap lima menit sekali, selalu memperingatkan lewat pengeras suara, bahwa kalau di laut misalkan kondisi arus pasang sehingga para wisatawan diimbau untuk tidak berenang ke tengah. Sehingga harapan kita setiap kali kita instruksikan kepada anggota kita itu untuk selalu memberikan warning bahwa kondisi laut itu seperti apa kemudian kecepatan angin seperti apa itu selalu kita informasikan kepada wisatawan sehingga mereka dalam melaksanakan aktivitasnya itu bisa selamat,” ujarnya. (haryono/yp)